Salah satu isu yang masih terus berkembang dalam dunia psikologi adalah mengenai Sexual Orientation -“Focus of consistent sexual, romantic, and affectionate interest, either heterosexual, homosexual, or bisexual” (Papalia, 2004, p.430). Jadi, orientasi seksual terdiri dari 3 jenis, yaitu heteroseksual – menyukai lawan jenis, homoseksual –menyukai sesama jenis, dan biseksual- dapat menyukai lawan jenis maupun sesame jenis. Penelitian-penelitian lebih banyak meneliti mengenai homoseksual, karena homoseksual adalah keadaan yang dapat dikatakan paling jauh dari standar normal masyarakat. Dalam dunia psikolgi pun isu mengenai homoseksual ini sempat menjadi perdebatan. Masalah tersebut dapat dilihat dalam perkembangan buku DSM, yaitu buku pedoman mengenai abnormalitas untuk dunia psikologi dan psikiatri buatan American Psychology Association (APA) yang diperbaharui setiap lima tahun sekali. Dalam DSM yang pertama, homoseksual masih dianggap sesuatu yang abnormal. Dalam perkembangannya, homoseksual tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang abnormal, hal itu dapat dilihat dengan dicabutnya homoseksual dari daftar abnormalitas dalam DSM III. Hingga kini homoseksual tidak lagi dianggap sebagai abnormalitas oleh dunia psikologi yang mengacu pada APA. Homoseksual dicabut dari daftar abnormalitas dalam DSM berdasarkan beberapa pertimbangan. Pertama, ciri-ciri orang yang sehat mental adalah orang yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, dapat beradaptasi dengan lingkungan, dan mampu menghadapi tuntutan-tuntutan hidup. Dari kriteria diatas, ternyata banyak orang homoseksual yang mampu mencapai semua kriteria tersebut. Selain pertimbangan mengenai kesehatan mental, pertimbangan kedua adalah tidak ditemukannya asosiasi antara orientasi seksual dengan masalah emosional ataupun masalah sosial (Papalia, 2004, p.430). Pertimbangan ketiga adalah banyaknya budaya yang menganggap homoseksual sebagai sesuatu yang normal, seperti budaya di pulau Melanesia (Papalia, 2004, p.430). Pertimbangan keempat adalah kemungkinan yang besar bahwa homoseksual disebabkan oleh faktor biologis seperti yang dikemukakan oleh Ellis dan Ames tahun 1987 mengenai proses prenatal yang menyebabkan ketertarikan pada sesame jenis ataupun faktor genetic yang dikemukakan oleh Gladue pada tahun 1994 yang dikutip oleh Papalia. Dalam kenyataannya, homoseksual kini lebih dapat diterima oleh masyarakat Amerika (Papalia, 2004, p.432).
Homoseksual terdiri dari dua jenis: Gay dan Lesbi. Gay adalah laki-laki yang tertarik pada sesama laki-laki, dan Lesbi adalah perempuan yang tertarik terhadap sesama perempuan. Lesbi memiliki kecenderungan untuk lebih serius dalam hubungan dengan pasangan sesama jenisnya. Lesbi lebih berpikir untuk menjalin hubungan jangka panjang dengan pasangannya dibanding gay. Karena merebaknya AIDS, kini gay juga mulai lebih serius dalam hubungan dengan pasangannya. Dalam hubungan jangka panjang gay maupun lesbi, tidak jarang dari mereka yang memiliki anak dengan cara adopsi ataupun menggunakan teknologi .
Homoseksual biasanya tidak hanya melakukan hubungan seks dengan sesama jenis saja, melainkan pernah mencoba melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. Hubungan seks dengan lawan jenis lah yang biasanya membuat orang semakin sadar mengenai seksual orientasinya. Selain itu, hubungan seks dengan lawan jenis juga dapat digunakan untuk menutupi homoseksualitasnya di depan orang lain.(Santrock, 446)
Hal menarik lainnya mengenai gay ataupu lesbi adalah bahwa anak mereka tidak memiliki kecenderungan untuk menjadi gay atau lesbi juga (Santrock 492). Sebaliknya, jika seorang dari anak kembar adalah gay atau lesbi, maka saudara kembarnya memiliki kecenderungan yang lebih untuk menjadi gay atau lesbi juga (Papalia, 431)
Santrock (2004) (492) menyatakan bahwa ada banyak kesalahan paradigma dalam masyrakat mengenai homoseksual. Kesalahan pertama adalah pendapat bahwa pada homoseksual, ada satu orang yang berperan sebagai maskulin dan yang lainnya adalah feminine. Pendapat tersebut hanya benar pada persentase yang sangat kecil. Kebanyakan pasangan homoseksual memiliki peran gender yang lebih fleksibel dibanding pasangan heteroseksual. Pendapat lain yang salah adalah bahwa gay atau lesbian melakukan lebih banyak hubungan seks disbanding heteroseksual. Hal ini juga hanya terjadi pada persentase yang kecil. Pendapat yang salah berikutnya adalah bahwa gay dan lesbi tidak suka hubungan jangka panjang. Hal ini salah. Kebanyakan pasangan homoseksual memilih hubungan jangka panjang dan bahkan sampai memiliki anak seperti yang sudah dijelaskan sebalumnya. Bahkan ada hasil penelitian yang menyatakan bahwa kehilangan pasangan pada gay atau lesbi merupakan hal kedua terburuk dalam hidup.