on ne changera rien

Belum setahun berlalu semenjak terjadinya kasus anak-anak yang meninggal akibat bermain smack Down. Salah satu pihak yang kewalahan karena masalah ini adalah sebuah stasiun televisi yang saat itu sedang gempar-gemparnya menayangkan acara sejenis itu di televisi. Stasiun televisi tersebut banyak meraih keuntungan karena rating dan share dari acara-acara tersebut tergolong tinggi. Stasiun televisi tersebut menayangkan acara yang sebenarnya dalam seminggu hanya dua kali menjadi sehari tiga kali dengan cara mngulang-ulang cerita dua hingga tiga bulan sebelumnya. Banyaknya tayangan kekerasan tersebut dianggap mempengaruhi anak sehingga anak-anak melakukan kekerasan. Karena alasan tersebut, maka kasus kematian anak-anak akibat smack down dengan mudah dilimpahkan kesalahannya pada acara smack down tersebut. Sebelum memasuki bahasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi dan siapa yang patut disalahkan, terlebih dahulu kita akan membahas mengenai apa itu sebenarnya smack down dan pandangan ilmiah mengenai pengaruh televisi tehadap perkembangan anak.

 

Sebenarnya masyarakat telah salah dengan menyebut gulat hiburan dengan istilah smack down.  Smack down sebenarnya hanya sebuah acara yang disiarkan satu minggu sekali. Sebenarnya secara umum gulat hiburan memiliki banyak produsen, misalnya saja dulu yang terkenal adalah WWF, WCW, dan ECW. Kini WWF telah membeli saham WCW dan ECW sehingga semua bergabung ke dalam sebuah panji baru bernama  WWE (World Wrestling Entertainment). WWF sendiri dulu memiliki dua kali penayangan dalam satu minggu, penayangan hari selasa diberi judul raw is war dan penayangan hari jumat diberi judul smack down. Jadi, istilah smack down sebenarnya hanya sebuah nama event kecil sekali seminggu. Seharusnya istilah yang tepat bukanlah anak meninggal karena bermain smack down, melainkan anak meninggal karena bermain gulat hiburan (dalam bahasa inggris sering disebut dengan istilah pro-wrestling). Nama smack down itu sendiri menjadi begitu populer di Indonesia karena pada tahun 1999, sebuah stasiun televisi Indonesia berhasil menayangkan acara smack down seminggu sekali dan tidak menayangkan acara-acara gulat lainnya seperti raw is war ataupun WCW dan ECW. Karena yang ada hanya smack down, maka sebagian besar masyarakat hanya tahu bahwa gulat hiburan itu bernama smack down, sehingga semua tingkah laku gulat hiburan disebut dengan smack down. Sebenarnya WCW itu sendiri pernah ditayangkan oleh sebuah stasiun televisi Indonesia yang lain jauh sebelum smack down ditayangkan, tetapi karena kurang laku, maka WCW tidak terkenal seperti layaknya smack down.

 

Mengenai kasus anak yang meninggal karena smack down, pihak yang selalu disalahkan adalah acara gulat hiburan tersebut. Karena banyaknya kasus, pemerintah sampai melarang penayangan segala jenis gulat hiburan di Indonesia, bahkan VCD, DVD, ataupun game playstation yang menggunakan nama WWE dilarang. Sebuah toko resmi penjual barang-barang asli dari WWE di daerah Kelapa Gading juga terpaksa tutup. Menurut penelitian-penelitian psikologi, memang kekerasan dalam televisi itu dapat mempengaruhi anak. Tayangan-tayangan yang menunjukan kekerasan akan cenderung membuat anak melakukan hal yang sama. Menurut Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, semakin sering anak menonton program televisi yang mengandung unsur kekerasan, semakin tinggi kecenderungan menjadi agresif saat beranjak dewasa. Apabila hal ini terus dibiarkan, tanpa ada tindak lanjut maupun pengarahan dari berbagai pihak, maka bukannya tidak mungkin menjelang usia dewasa nanti, seorang anak akan memiliki kepribadian yang antisosial. Untuk menghindari terjadinya hal tersebut, diperlukan suatu tindakan preventif yang nyata dan kerjasama antar seluruh lapisan masyarakat, mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat, pihak stasiun televisi, sampai Dinas Pendidikan dan pemerintahan agar anak-anak dapat lebih berpikir kritis terhadap apa yang dilihatnya di layar televisi. Dari pernyataan-pernyataan tersebut, maka dapat dikatakan bahwa tindakan menyalahkan smack down merupakan hal yang beralasan.

 

Peneltian menunkukan bahwa tinggi rendahnya pegaruh televisi terhadap anak bergantung pada banyak kondisi, tiga di antaranya yang sangat penting adalah sebagai berikut. Pertama, seberapa besar pengaruh televisi dan apakah pengaruh ini baik atau buruk ditentukan oleh jumlah bimbingan dan pengawasan terhadap anak yang menontonnya. Apabila orang tua menyediakan waktu untuk menafsirkan apa yang dilihat anak di layar televisi, anak-anak akan mengerti dan menafsirkan apa yang dilihatnya dengan benar. Dengan bimbingan dan pengawasan atas acara yang akan ditonton anak, mereka dapat mempelajari pola perilaku dan nilai yang sehat yang akan membimbing ke arah sosialisasi yang baik dan tidak ke nilai dan pola perilaku yang tidak sehat. Kedua, seberapa banyak anak dapat mengingat hal-hal yang mereka lihat di layar dan seberapa baik pemahaman mereka akan menimbulkan pengaruh yang nyata pada mereka (lih. Hurlock, 2005). Dalam kasus smackdown, jika anak-anak menafsirkan kekerasan di televisi sebagai pola perilaku yang direstui masyarakat dan model yang benar untuk ditiru, maka pengaruhnya akan sangat berbeda daripada apabila mereka menafsirkannya sebagai pola perilaku yang tidak direstui masyarakat. Ketiga, sejauh mana televisi mempengaruhi anak bergantung pada jenis anak sendiri sebagai hasil pengalaman lainnya. Karena itu, muncul juga beberapa argumen dalam kalangan masyarakat bahwa salah satu pihak yang seharusnya paling disalahkan adalah orang tua. Orang tua seharusnya dapat mendidik anaknya agar tidak melakukan kekerasan atau tidak mencontoh hal-hal yang buruk, atau bahkan untuk tidak menonton tayangan kekerasan sama sekali.

 

Kabar buruknya, hampir semua tontonan yang ditampilkan di layar kaca adalah tayangan kekerasan, terutama untuk anak-anak. Tayangan yang laku ditonton anak biasanya berhubungan dengan kekerasan, termasuk film-film super hero. Tayangan pada anak yang tidak melibatkan kekerasan ataupun konflik (persaingan antara si baik dan si jahat yang mungkin tidak secara langsung ditunjukan dalam bentuk perkelahian) mungkin dapat dihitung dengan jari. Kekerasan pada layar televisi yang hampir setiap saat ditonton oleh anak-anak akan membawa dampak negatif. Karena anak suka meniru, mereka merasa bahwa apa saja yanng disajikan dalam acara televisi tentunya merupakan cara yag dapat diterima baginya dalam bersikap sehari-hari. Karena para pahlawan yang patuh kepada hukum kurang menonjol ketimbang mereka yang memenangkan perhatian dengan kekerasan dan tindakan sosial lainnya, anak-anak cenderung menggunakan cara yang terakhir untuk mengidentifikasi diri dan menirunya (Hurlock, 2005). Menu acara yang terus-menerus menunjukkan adegan kekerasan, pembunuhan, penyiksaan, dan kekejaman pada saatnya akan menumpulkan kepekaan dan mendorong pegembangan nilai anak yang tidak sejalan dengan nilai mayoritas kelompok sosial. Apabila anak terbiasa dan tidak peka terhadap kekerasan, mereka akan menerima perilaku itu sebagai pola hidup yang normal.

 

Jadi, sejauh ini kesalahan dapat ditimpakan pada acara smack down itu sendiri maupun pada orang tua, namun satu hal yang dilupakan masyarakat umum adalah kontribusi anak itu sendiri. Beberapa penelitian menyimpulkan, bahwa menonton televisi menimbulkan pengaruh yang baik; yang lain menganggap buruk. Namun, terdapat kesamaan di antara keduanya: “Anak yang penyesuaiannya baik, kecil kemungkinannya terpengaruh secara negatif, apakah temporer atau permanen dibandingkan dengan anak yang buruk penyesuaiannya, dan anak yang sehat daripada yang tidak sehat.” Intinya, anak-anak yang terlibat dalam kasus smack down tersebut kemungkinan merupakan anak-anak yang memiliki masalah pada penyesuaian dirinya, entah karena masalah pada pola asuh ataupun karena masalah-masalah lainnya. Pertanyaan yang berikutnya muncul adalah “jika yang disalahkan adalah tayangan gulat hiburan ataupun orang tua, maka sebenarnya siapakah yang membunuh anak tersebut? Gulat hiburan itu sendiri, orang tua anak yang bersangkutan, atau anak itu sendiri?” Sebenarnya setiap orang memiliki pilihan dalam hidupnya, termasuk anak- anak. Jika seseorang yang terobsesi dengan sebuah novel pembunuhan melakukan pembunuhan dengan cara yang sesuai dengan cara pembunuhan pada novel tersebut, maka yang membunuh adalah orang itu atau novel yang dibacanya? Ia bukan membunuh orang karena terobsesi dengan novel pembunuhan semata, melainkan ia membunuh orang karena suatu alasan tertentu, yang kebetulan cara membunuhnya sesuai dengan cara yang ada dalam novel itu. Dalam kata lain, novel tersebut hanya sebuah mediator yang menengahi antara pembunuh dengan tingkah laku membunuh. Tingkah laku membunuh itu sendiri memang dilakukan oleh orang tersebut, hanya saja kebetulan novel itu menjadi instrumen dalam melakukan pembunuhan tersebut. Demikian juga dalam kasus tersebut. Mungkin sebenarnya bukan smack down yang membunuh anak tersebut, melainkan ada suatu alasan lain yang melatarbelakangi masalah anak yang meninggal karena bermain smack down tersebut. Buktinya, semua anak yang meninggal karena bermain smack down tersebut meninggal dalam keadaan dikeroyok, padahal pada tontonan gulat hiburan tersebut, yang sering dimunculkan adalah tokoh utamanya dikeroyok itulah yang menang. Tokoh utama yang sendirian seringkali berhasil mengalahkan musuh yang mengeroyoknya. Contohnya saja pada saat kasus itu muncul, yaitu pada akhir tahun 2006, cerita yang sedang disajikan oleh WWE adalah Trple H dan Shawn Michael yang selalu berhasil mengalahkan lawannya, Spirit Squad, yang beranggotakan lima orang.

 

Penulis curiga sebenarnya anak tersebut bukan meninggal karena bermain smack down, melainkan karena di-bully (atau dalam bahasa indonesianya sering kali disebut dijadikan bulan-bulanan). Kebetulan bullying ataupun pengerotokan tersebut dilakukan dengan cara smack down, selain itu, Penulis juga tidak menemukan satu berita pun yang dapat menjelaskan secara spesifik anak tersebut meninggal karena bantingan seperti apa (dalam gulat hiburan setiap gerakan bantingan memiliki nama). Penulis curiga kasus ini sebenarnya merupakan manifestasi dari kekerasan dalam dunia anak yang selama ini terjadi. Mungkin ada benarnya juga sinetron-sinetron indonesia yang ditayangkan akhir-akhir ini. Banyak sinetron yang di dalamnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, menggambarkan kekerasan dalam dunia anak, baik dengan cara saling ngerjain atau menjahili, maupun dengan langsung mengeluarkan kata-kata kasar. Dalam kenyataannya, mungkin hal-hal seperti itu banyak terjadi di dunia anak di Indonesia ini, hanya saja tidak banyak yang ketahuan. Penulis sendiri sering menemukan anak-anak yang lugu dan tidak tahu apa-apa dipukuli sebagai korban keisengan geng sekolah yang ada.

 

Penulis curiga sebenarnya ada masalah laten di balik kasus kematian karena smack down ini. Penulis curiga bahwa sebenarnya kekerasan dalam dunia anak itu memang banyak terjadi hanya saja baru muncul masalahnya ke permukaan karena kejadian kematian pada kasus smack down tersebut. Jika memang dalam dunia anak terdapat banyak kekerasan, tidak heran banyaknya terjadi tawuran dan perkelahian di kalangan remaja. Masalah laten yang penulis jelaskan sama seperti ilustrasi yang telah penulis berikan sebelumnya, yaitu bahwa seorang pembunuh yang cara membunuhnya sama dengan cara pembunuhan pada novel sebenarnya dapat dijelaskan lebih kompleks dari pada sekedar dianggap sebagai orang jahat ataupun orang psikopat. Ia memiliki alasan untuk membunuh, atau dalam kata lain, kenapa orang itu yang dibunuh dan bukan orang lain? Jika ia hanya sekedar psikopat dan terobsesi pada buku yang dibacanya sehingga ia mau membunuh orang, maka ia tidak akan memiliki jawaban atas pertanyaan tadi. Sebaliknya, jika ia bukan sekedar psikopat, maka ia memiliki alasan lain yang tida terlihat atau tidak kelihatan orang lain kenapa ia membunuh orang tersebut. Orang awam hanya cenderung melihat luarnya saja, seperti ia psikopat dan membunuh karena terobsesi pada novel tersebut. Sebenarnya, mungkin ada alasan lain yang melatarbelakangi. Demikian juga halnya dengan kasus smack down. Orang hanya melihatnya sekedar pembunuhan tidak sengaja karena meniru adegan di televisi. Hal yang dapat terlihat secara langsung mungkin memang seperti itu, tapi mungkin ada hal lain yang tidak kalah penting yang melatarbelakangi anak-anak tersebut bermain smack down hingga ada yang mati. Menurut penulis, masalah tersebut terjadi karena sebenarnya mereka bukan sedang bermain, melainkan memang melakukan pengeroyokan terhadap seorang anak yang dijadikan korban. Samck down dijadikan alasan oleh anak-anak tersebut maupun orang tuanya untuk kabur dari tanggung jawab anak-anak tersebut. 

 

Piaget mengatakan bahwa anak-anak  berusia diatas 7 tahun sudah memasuki tahap kognitif concrete operational, yaitu sudah dapat melihat hubungan sebab akibat secara logis, dapat menyimpulkan hal-hal yang dilihat atu dialaminya, dan dapat melihat kuantitas dengan baik. Dengan kemampuan melihat hubungan sebab akibat ini, maka sebenarnya anak-anak pada usia ini tahu apa yang ia perbuat dan resikonya. Hal yang menarik adalah kejadian pembunuhan dengan cara smack down ini terjadi diberbagai tempat. Seharusnya dengan dapat menyimpulkan, anak-anak pada usia ini sudah sadar bahwa bermain smack down adalah hal yang berbahaya sejak kasus awal. Dalam kenyataannya, setelah tayangan gulat hiburan ditiadakan tetap sempat banyak korban yang berjatuhan. Pada intinya, sebenarnya anak-anak itu tahu apa yang dilakukan. Fakta ini menambahkan bukti atas asumsi penulis bahwa sebenarnya mereka bukan bermain tetapi sedang melakukan pengeroyokan dimana tayangan smack down dijadikan kambing hitam.

 

Secara psikoogis, bullying dapat berdampak buruk bagi yang melakukan ataupun bagi yang di-bully. Menurut Erickson, seorang tokoh psikoanalisis, pada usia ini seorang anak berada pada tahap perkembangan industry vs inferiority, yaitu masa dimana seorang anak perlu merasakan bahwa dirinya berguna dan bisa melakukan sesuatu (lih.Santrock, 2006). Jika perasan itu tidak muncul maka anak tersebut akan terhambat dalam masa perkembangannya dan memiliki masalah pada tahap tersebut. Tahap perkembangan inilah yang membuat anak-anak selalu merasa marah jika ditantang. Mereka yang di-bully akan mengalami hambatan pada perkembangan kepribadiannya karena merasa ditekan oleh kawan-kawannya. Ia sulit untuk bisa merasa berguna dan bisa melakukan sesuatu karena dalam kenyataannya anak tersebut selalu dtekan dan tidak bisa melawan teman-temannya. Perkembangan kepribadian yang tidak sehat tersebut dapat mengarahkan anak yang bersangkutan untuk mengalami masalah kepribadian pada saat beranjak dewasa. Masalah kepribadian yang mungkin muncul dari rasa ditekan tersebut adalah kecenderungan untuk merasa tidak berguna dan berusaha menghindarkan diri dari orang lain, atau jika meminjam istilah psikologi klinis, akan beresiko mengalami avoidant personality disorder, yaitu gangguan kepribadian yang membuat seseorang cenderung tidak mau berhubungan dengan orang lain. Untuk mereka yang melakukan bullying juga sebenarnya beresiko mengalami masalah kepribadian pada saat beranjak dewasa, yaitu lebih beresiko mengalami antisocial personality disorder, yaitu gangguan kepribadian yang memiliki ciri berupa kecenderungan untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum.

 

Dari semua yang telah dijelaskan penulis, maka dapat dilihat bahwa sebenarnya pada dunia anak di Indonesia sangat besar kemungkinan terjadinya bullying dan sebenarnya bullying itu sendiri merupakan sesuatu yang berbahaya bagi perkembangan anak-anak yang terlibat, baik yang melakukan maupun yang terlibat. Karena itu, sebenarnya masalah ini membutuhkan penelitian lebih lanjut, baik dari psikolog ataupun sosiolog. Kita perlu tahu apa sabenarnya yang menjadi penyebab terjadinya bullying pada anak-anak. Penulis curiga masalah tersebut muncul dari pencarian kekuasaan. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada usia ini, anak butuh perasaan bahwa dirinya berharga dan mampu melakukan sesuatu. Hal ini juga diperkuat dari tontonan yang ditonton sehari-hari dimana jagoan selalu dipuji-puji. Dengan menjadi jagoan di sekolahnya, seorang anak akan merasa senang dan bangga. Mereka tidak sadar bahwa dengan menjadi jagoan dengan cara yang salah, mereka beresiko mengalami gangguan kepribadian pada saat beranjak dewasa nanti. Pada intinya, penulis berasumsi bahwa bullying yang terjadi pada dunia anak adalah karena ada anak-anak yang ingin dianggap jagoan dan ingindiakui oleh teman-temannya.

 

Sebenarnya dugaan penulis tersebut belum tentu benar, karena untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dibutuhkan penelitian-penelitian lebih dalam. Salah satu yang penting untuk diteliti adalah pola asuh dalam keluarga yang melakukan ataupun korban bullying. Jika selama ini kita hanya tahu banyak terjadinya kasus bullying pada remaja, bukan tidak mungkin semua itu berawal dari masa kanak-kanak. Salah satu hal yang perlu diteliti lebih lanjut juga adalah latar belakang keluarga. Penting untuk dilihat darimana anak-anak tersebut belajar bullying tersebut. Harus dilihat apakah keluarga mereka harmonis, atau sering bertengkar, kemudian juga penting untuk dilihat anak tersebut merupakan anak ke berapa dari berapa bersaudara, bagaimana interaksi anak-anak tersebut dengan kakak atau adiknya. Terakhir, tidak boleh terlupa, yaitu sifat anak itu sendiri. Hal ini dapat dilihat dari film-film seperti apa yang disukai, game seperti apa yang disukai, dan juga bagaimana kemampuan anak tersebut beradaptasi dengan lingkungan. Hal ini sangat mudah diidentifikasi oleh orang tua jikalau orang tua yang bersangkutan cukup perduli untuk mengamati anak-anaknya dengan seksama. 

 

Dengan munculnya masalah smack down tadi, maka kekerasan dalam dunia anak yang tadinya tidak terlihat kini mencuat ke permukaan. Sayang sekali jika kesalahan dijatuhkan hanya pada pihak WWE dan stasiun TV yang menayangkan tersebut. Seperti yang telah dianalogikan sebelumnya oleh penulis, mungkin sebenarnya smack down ini hanya merupakan sebauh media atau sebuah instrumen dalam melakukan kekerasan dalam dunia anak tersebut. Mungkin tanpa smack down pun anak-anak tetap melakukan kekerasan-kekerasan tersebut dalam bentuk yang lain. Jika kesalahan hanya dijatuhkan pada pihak pembuat acara, maka kekerasan pada dunia anak yang sebenarnya inti dari semua masalah tersebut tidak dapat diselesaikan. Apakah lebih baik menyelesaikan masalah yang terlihat diluar saja atau lebih baik jika dapt menyelesaikan hingga ke akar-akarnya? Jika ingin menyelesaikan masalah luarnya saja, maka cara yang ditempuh pemerintah memang sudah tepat, yaitu dengan meniadakan acara tersebut dan semua yang berhubungan dengan acara tersebut (psikologi behaviorisme menybutnya dengan metode extinction, yaitu menjauhkan seseorang dari segala hal yang dapat merangasang seseorang untuk melakukan suatu hal yang diharapkan tidak dilakukan). Dengan cara tersebut, mungkin masalah smack down seakan tidak ada lagi, tetapi apakah kekerasan dalam dunia anak tersebut sudah berhasil diselesaikan?

 

Setelah masalah smack down tersebut terjadi, di beberapa sekolah juga dilakukan tindakan prefentif dengan memberikan larangan-larangan. Tindakan preventif yang sempat dilaksanakan oleh pihak sekolah adalah dengan mencantumkan pengumuman larangan melakukan Smackdown di lingkungan sekolah. Pihak sekolah memberikan sanksi tegas terhadap pelanggaran yang dilakukan. “Melakukan satu kali Smackdown, sanksinya adalah membersihkan WC. Dua kali Smackdown, akan diskors dari sekolah. Jika melakukan tiga kali Smackdown akan dikeluarkan dari sekolah.” Seperti itulah larangan dan sanksi yang mulai diterapkan oleh pihak sekolah untuk mencegah bertambahnya korban akibat menirukan aksi Smackdown. Kepala Dinas Pendidikan juga menyatakan bahwa pihaknya melegalkan pemberian sanksi dari sekolah kepada para siswa yang melakukan aksi Smackdown di sekolah. Sanksi yang diberikan harus bersikap edukatif sehingga menjaga siswa agar menjadi terdidik. 

 

Seperti dikutip dari bneberapa artikel, hasilnya cukup efektif, karena anak-anak terutama saat jam istirahat atau jam pelajaran olahraga, tidak lagi bergulat ala Smackdown. Jam pelajaran olahraga dan saat istirahat sekolah, sering menjadi ajang siswa SD memperagakan apa yang ditontonnya dari televisi. Tayangan tersebut, diakui sejumlah anak memberikan pengetahuan adanya variasi gerakan bergulat. Sekarang juga sepertinya smack down ini sudah tidak lagi menjamur di kalangan anak=anak. Sudah jarang ditemukan anak-anak yang bermain smack down. Keberhasilan ini mungkin karena berhasilnya larangan pemerintrah dalam melarang distribusi segala hal yang berhubungan dengan gulat hiburan, atau juga karena sumbangan dari sekolah-sekolah yang berhasil melarang murid-muridnya bermain smack down. Tetapi penulis masih kurang puas. Dengan tidak adanya lagi masalah smack down tersebut, maka penulis merasa masalah kekerasan pada anak ini semakin tidak hangat untuk dibicarakan. Setiap kesalahan yang terjadi selalu ditimpaka pada orang dewasa. Kapan anak-anak akan diajar untuk bertanggung jawab? Sekali lagi, ketidakpuasan penulis yang terutama adalah apakah masalah yang sebenarnya berhasil diselesaikan? Apakah dengan tidak adanya lagi anak yang bermain smack down maka berarti kekerasan dalam dunia anak telah tidak ada lagi?

 

Sekali lagi, penulis sebenarnya setuju bahwa tayangan smack down dapat memicu anak untuk menjadi anak yang lebih agresif. Penulis juga sangat setuju bahwa kasus kematian anak tersebut salah satu faktor utamanya adalah karena adanya tren smack down. Terbukti sebelum dan setelah adanya smack down tidak ada anak yang mati dikeroyok teman-temannya, tetapi dalam kasus kematian anak karena bermain smack down tersebut, penulis merasa bahwa ada hal-hal penting yang lebih mendesak untuk diselesaikan dibanding sekedar menghapuskan program tersebut dengan membiarkan masalah utamanya tetap tidak terjamah. Untuk para orang tua, ada baiknya untuk lebih waspada terhadap segala kegiatan anaknya. Setiap anak mungkin punya dunianya sendiri yang tidak diketahui, karena itu waspadalah pada dunia anak yang tidak terjamah tersebut, jangan sampai dunia tersebut merupakan dunia yang buruk seperti dunia kekerasan tersebut. Menurut penulis, sudah saatnya setiap anak dididik untuk lebih mencintai perdamaian dan belajar bertanggung jawab atas segala tindakannya. Sebelum Indonesia semakin kacau karena generasi mudanya yang tidak berkualitas, bukankah sebaiknya kita perangi segala bentuk kekerasan pada dunia anak?

 

 

 

Rujukan:

 

Lihat dalam Hurlock, Elizabeth B. Perkembangan Anak. 2005.

Lihat dalam Santrock, John W. Life Span Development. 2006.


traker172 wrote on Sep 13
enek gw bacot aja! wwe tuh acra favorit gw!matinya anak slh dia sndri knapa ngikutin!pokonya gw seorang wrestlemania gak rela kalau wwe dihilangkan
shkval122 wrote on Sep 14
enek gw bacot aja! wwe tuh acra favorit gw!matinya anak slh dia sndri knapa ngikutin!pokonya gw seorang wrestlemania gak rela kalau wwe dihilangkan
diterima-diterima bung,ada baiknya kita melihat dari kacamata psikologi
Add a Comment
   
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help